Banjarmasin, 11 September 2026 — Program BESTARI melalui penelitian berjudul “FROM WASTE TO HARVEST: Model Inovasi Pertanian Sirkular Berbasis Pemberdayaan Masyarakat untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan di Bantaran Sungai Kota Banjarmasin” melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) 2 tentang Pemanfaatan Limbah untuk Tanaman serta Pendampingan Penerapan Sistem Hidroponik dan Vertical Farming di Kelurahan Sungai Jingah, Kota Banjarmasin, pada Jumat, 11 September 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pemberdayaan masyarakat dalam penelitian FROM WASTE TO HARVEST yang mengembangkan model pertanian sirkular berbasis potensi dan kondisi lokal. Bimtek menghadirkan Indriani, SP., M.P. sebagai narasumber yang memberikan materi dan pendampingan kepada masyarakat dalam memanfaatkan hasil pengolahan limbah untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman.

Pelaksanaan Bimtek 2 menjadi tahapan lanjutan setelah masyarakat memperoleh pendampingan mengenai pengolahan limbah organik menjadi kompos dan pupuk cair. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya diarahkan untuk dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya tanaman sebagai bagian dari siklus pemanfaatan sumber daya.

Pemanfaatan limbah untuk tanaman menjadi salah satu penerapan prinsip pertanian sirkular, yaitu mengoptimalkan kembali sumber daya yang tersedia sehingga dapat digunakan dalam proses produksi berikutnya. Melalui pendekatan tersebut, limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat diolah dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Selain materi pemanfaatan limbah, kegiatan juga memberikan pendampingan penerapan sistem hidroponik. Hidroponik diperkenalkan sebagai salah satu alternatif budidaya tanaman yang dapat diterapkan pada kondisi lahan terbatas dengan memanfaatkan air dan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Masyarakat juga memperoleh pengenalan dan pendampingan mengenai vertical farming atau pertanian vertikal. Sistem ini memungkinkan kegiatan budidaya dilakukan secara bertingkat sehingga penggunaan ruang dapat dioptimalkan. Pendekatan tersebut memiliki relevansi bagi masyarakat perkotaan yang menghadapi keterbatasan lahan untuk mengembangkan kegiatan pertanian.

Melalui kegiatan praktik dan pendampingan, peserta diarahkan untuk memahami tahapan dasar penerapan hidroponik dan vertical farming, mulai dari penyiapan sistem, pemilihan dan penempatan tanaman, hingga pemanfaatan bahan pendukung yang tersedia di lingkungan sekitar.

Penerapan sistem budidaya pada lahan terbatas diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan pertanian di lingkungan permukiman. Kegiatan budidaya dapat dilakukan secara lebih fleksibel dengan menyesuaikan kondisi ruang yang tersedia di sekitar rumah atau lingkungan masyarakat.

Integrasi antara pengolahan limbah dengan kegiatan budidaya menjadi salah satu bagian penting dari model yang dikembangkan dalam penelitian FROM WASTE TO HARVEST. Limbah organik dapat diolah menjadi produk yang mendukung kegiatan tanaman, sementara hasil budidaya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun kebutuhan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.

Kegiatan ini juga memperkuat pendekatan pemberdayaan masyarakat yang diterapkan dalam Program BESTARI. Masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga didampingi untuk memahami penerapan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan secara mandiri.

Bagi kawasan bantaran sungai seperti Kelurahan Sungai Jingah, pengembangan sistem pertanian yang hemat ruang menjadi salah satu alternatif untuk memanfaatkan ruang terbatas di lingkungan permukiman. Penerapan hidroponik dan vertical farming memungkinkan aktivitas budidaya dilakukan tanpa membutuhkan lahan pertanian konvensional dalam skala luas.

Selain mendukung pemanfaatan limbah dan optimalisasi ruang, kegiatan budidaya tanaman juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ketahanan pangan. Pengembangan tanaman pangan atau tanaman produktif di lingkungan tempat tinggal dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya lokal yang mendukung ketersediaan pangan.

Pendampingan yang dilakukan oleh narasumber diharapkan memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat mengenai cara memanfaatkan hasil pengolahan limbah secara tepat serta mengembangkan sistem budidaya yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal bagi masyarakat untuk melanjutkan praktik secara mandiri setelah kegiatan pendampingan selesai.

Bimtek 2 juga menjadi bagian dari proses penerapan desain model pertanian sirkular yang sebelumnya telah dirumuskan melalui tahapan penelitian. Dengan adanya kegiatan praktik di lapangan, konsep yang dikembangkan dalam penelitian mulai diimplementasikan dalam bentuk kegiatan yang dapat diamati dan diterapkan oleh masyarakat.

Program BESTARI melalui penelitian FROM WASTE TO HARVEST terus mendorong keterhubungan antara pengelolaan limbah, pemanfaatan sumber daya, teknologi budidaya, dan pemberdayaan masyarakat. Integrasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan model inovasi pertanian yang sesuai dengan kondisi kawasan bantaran sungai dan dapat mendukung keberlanjutan lingkungan.

Pelaksanaan Bimtek 2 Pemanfaatan Limbah untuk Tanaman serta Pendampingan Penerapan Sistem Hidroponik dan Vertical Farming pada 11 September 2026 menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan model pertanian sirkular di Kelurahan Sungai Jingah. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat dalam memanfaatkan hasil pengolahan limbah sekaligus mengembangkan alternatif budidaya pada lahan terbatas.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Program BESTARI diharapkan dapat mendorong terbentuknya praktik pertanian sirkular yang berbasis pada potensi masyarakat dan kondisi lingkungan setempat. Pemanfaatan limbah, pengembangan hidroponik, dan vertical farming menjadi bagian dari upaya membangun sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat di bantaran Sungai Kota Banjarmasin.