Banjarmasin, 28 Juli 2026 — Tim peneliti Program BESTARI melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) 2 dengan tema “Penyusunan Desain Model Pertanian Sirkular” di Kelurahan Alalak Tengah, Kota Banjarmasin, pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan lanjutan dalam penelitian berjudul “FROM WASTE TO HARVEST: Model Inovasi Pertanian Sirkular Berbasis Pemberdayaan Masyarakat untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan di Bantaran Sungai Kota Banjarmasin.”

Penelitian tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dosen dari Jurusan Pendidikan Geografi, Pendidikan Biologi, dan Pertanian, dengan Prof. Dr. Karunia Puji Hastuti, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua tim peneliti. Kolaborasi lintas disiplin tersebut dilakukan untuk menghasilkan model inovasi yang mengintegrasikan aspek kewilayahan, lingkungan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan di kawasan bantaran sungai.

Dalam pelaksanaan FGD 2, tim peneliti menghadirkan Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, MP. sebagai narasumber. Beliau memberikan pandangan dan masukan yang mendukung proses penyusunan desain model pertanian sirkular, khususnya dari sisi pengembangan sistem pemanfaatan sumber daya dan penerapannya dalam kegiatan pertanian berbasis masyarakat.

FGD 2 dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari kegiatan analisis kondisi awal yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Data dan informasi yang diperoleh melalui tahapan awal penelitian menjadi dasar untuk menyusun rancangan model yang sesuai dengan karakteristik lingkungan serta kondisi sosial masyarakat Kelurahan Alalak Tengah.

Diskusi difokuskan pada perumusan komponen-komponen model pertanian sirkular yang dapat diterapkan di wilayah penelitian. Pembahasan mencakup potensi pemanfaatan limbah organik, proses pengolahan limbah menjadi sumber daya yang dapat digunakan kembali, penerapan dalam kegiatan budidaya, serta peluang pemanfaatan hasil pertanian untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Konsep pertanian sirkular yang dikembangkan dalam penelitian ini berupaya membangun suatu siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga maupun kegiatan pertanian diarahkan untuk dapat diolah dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna dalam mendukung proses produksi berikutnya.

Kelurahan Alalak Tengah dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki karakteristik sebagai kawasan bantaran sungai dengan potensi dan tantangan lingkungan yang khas. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam merancang model yang tidak bersifat seragam, melainkan mampu menyesuaikan dengan karakteristik wilayah, sumber daya lokal, dan kapasitas masyarakat.

Penyusunan desain model dilakukan dengan mempertimbangkan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai bagian penting dalam proses pengembangan dan penerapan model sehingga rancangan yang dihasilkan diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan kemampuan masyarakat setempat.

Kegiatan FGD juga menjadi ruang untuk mengintegrasikan keahlian dari berbagai bidang ilmu. Perspektif Pendidikan Geografi digunakan dalam memahami karakteristik wilayah, pemanfaatan ruang, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Pendidikan Biologi memberikan dukungan dalam aspek ekologi dan pemanfaatan sumber daya hayati, sedangkan bidang Pertanian berperan dalam pengembangan sistem budidaya serta pemanfaatan hasil pengolahan limbah sebagai bagian dari siklus produksi.

Melalui kolaborasi tersebut, tim peneliti berupaya memastikan bahwa model yang dirancang tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis pertanian, tetapi juga memperhatikan kondisi lingkungan, karakteristik sosial masyarakat, serta keberlanjutan penerapannya di wilayah bantaran sungai.

Masukan dari narasumber dan hasil diskusi selanjutnya menjadi bahan untuk menyempurnakan desain model sebelum memasuki tahap implementasi. Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap komponen model memiliki keterkaitan yang jelas dan dapat diterapkan secara realistis sesuai dengan kondisi lapangan.

Penelitian “FROM WASTE TO HARVEST” diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang mampu menghubungkan pengelolaan limbah, kegiatan pertanian, dan pemberdayaan masyarakat dalam suatu sistem yang berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, limbah tidak hanya dipandang sebagai permasalahan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang bernilai guna.

Selain aspek lingkungan, pengembangan model pertanian sirkular juga diharapkan memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah dan memanfaatkan sumber daya lokal dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian serta ketahanan pangan di tingkat lokal.

Pelaksanaan FGD 2 di Kelurahan Alalak Tengah menunjukkan komitmen Program BESTARI dalam mengembangkan penelitian yang berbasis pada kondisi nyata masyarakat dan melibatkan pendekatan lintas disiplin. Proses penelitian dilakukan secara bertahap mulai dari identifikasi kondisi awal, penyusunan desain model, hingga tahapan penerapan dan evaluasi.

Melalui kegiatan ini, tim peneliti berharap desain model pertanian sirkular yang dikembangkan dapat menjadi salah satu alternatif inovasi dalam pengelolaan limbah dan pengembangan pertanian di kawasan bantaran sungai Kota Banjarmasin. Model tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya sistem pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

FGD 2 yang dilaksanakan pada 28 Juli 2026 di Kelurahan Alalak Tengah menjadi bagian penting dalam proses pengembangan penelitian “FROM WASTE TO HARVEST”. Kegiatan ini memperkuat sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam merancang model inovasi pertanian sirkular yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.